Rabu, 25 Juni 2014



Otakku sempit
Apa ini? Apa apaan ini?
Suara takdir menyeru bahwa ini jalanmu
Kamu terlalu percaya diri, nak
Kamu terlalu percaya diri dan bodoh
Ya, bodoh
Mana mungkin Merak cinta pada pipit
Mana mungkin seorang bijaksana cinta pada si hina
Berpikirlah nak, kamu tak pantas dengannya setara pun tidak
Kalaupun dia ada rasa, itu hanya rasa iba karna kau terlalu mendamba
Dia punya segalanya dan kau hanya salah satu dari bonekanya
Selamat, kamu berhasil menjerumuskan dirimu dalam bahagia yang semu karna sebuah ambisi
Inginkan dia yang sempurna untuk masa depan gemilang
Tapi halooo, kamu siapa?
Kini takdirmu sudah berbicara
Dengan cara tragis, dia pemain cinta mengungkap segala rahasia indah berbau busuk
Parah dan mengenaskan
Yang ku sangka setia
Yang ku kira baik baik saja
Yang ku duga bijaksana dan tak terlintas kata "bejat" di otak..
Tapi ternyata nyata
Otakku sempit



Tangan kubuka dan mencoba menangkapnya
Tak bisa, hanya kurasakan
Alunan lembut yang menyejukkan
Iya, angin
Seperti Engkau Tuhan 
Tak bisa diterka dengan panca indera
HadirMu nyata, menyeruak di sanubari setiap hambaMu
Rasa cinta yang mendalam di relung
Mengharap Jiwa menjadi abdi
Tuhan, andai aku sendiri..

Tuhan, Andai aku sendiri
Kuhabiskan umurku hanya untukMu
Ku rajut hariku dengan zuhud terhadap duniaMu
Tanpa risau denga pencapaianku
Detikku hanya dilahap ibadahku
Tundukku dengan segala ketetapanMu
Sibukku kala menjalankan amalan untuk mencintaMu
Yang ku harap hanya rahmatMu
Tak ada yang mengusikku
Aku bebas berbuat semauku
Tak ada lagi yang menyakiti hati
Karena, aku sendiri..

Tawa mereka riang sekali
Betapa tidak, segala sudah di sanubari
Orang tua yang membimbing sejak dini
Tak ada keraguan diri lagi
Seperti dunia sudah digenggam
Tingkah laku seindah langgam
Raut teduh hijau bayam
Tutur lembut tiada menghujam

Tuhan, aku ingin seperti mereka
Ketika dunia nomor ke berapa
Setiap detik tak disiakannya
UntukMu segala upaya
Bahagia dengan sederhana
Segala harap hanya cintaMu
Aku pun yakin bukan semu
Dalam benak hanya akhlak dan ilmu
Hidup damai bersamaMu ya Nur Qolbu

Tuhan, aku tak inginkan payah
Titian hidup yang terarah
Denganmu jiwa berpasrah
Tak bosan air mata dan tengadah
RahmatMu kuatkan langkah

Tapi Tuhan, kenapa takdirku berkata berbeda?
Tak seperti mereka bahkan sebaliknya
Aku harus merangkak demi mengemis kasihMu
Aku harus berpeluh demi mengais cintaMu
Aku harus berperang dengan dunia demi menepis nafsku
Apakah tak cukup segala perih ini untuk menebus ridhoMu?

Dalam segala linangan terselip munajat
Bahwa Engkau akan mengembalikan segala nikmat
Butakan mataku agar tak terpikat
Dengan kesenangan tawaran keparat
Limpahkan sayangMu bukan laknat

Dengan seluruh raga berselimut dosa
Tanpa daya bersimpuh menunggu masa
Tuhan, ampunkanlah
Hati yang tak pernah mengucap Alhamdulillah
Dari segala rahmat yang berupa masalah
Untuk hijrah meninggalkan jahiliyah

Sesungguhnya tak perlulah iri itu ada
Justru semua adalah  magnet dariNya
Biarlah sakit demi dekat denganNya
Rela terluka batin untuk cintaNya
Terimalah segala penghambaan jiwa
Meski tak sempurna
Meski tak seperti mereka
Akan ku buat sekuat tenaga
Hingga semua menjadi pelangi yang berwarna
Sampai  si ulat bulu menjadi kupu kupu raja

Dengan sayap cantiknya mendunia

Bu Guru : "anak - anak, ada macam - macam soal Ulangan akhir Semester yang akan kalian kerjakan sebentar lagi. ada empat macam soal, yaitu pilihan ganda, kalian pilih antara pilihan a, b, c atau d. menjodohkan, kalian diminta untuk menjodohkan pernyataan dengan jawaban yang telah disediakan. isian singkat, kalian hanya akan diminta menjawab singkat dan esai, kalian disuruh menjabarkan jawaban kalian. jadi kerjakan baik - baik supaya nilai kalian bagus."

Murid : (serempak) "iya bu guru.."

Esok hari setelah Ulangan akhir Semester dilaksanakan.............

Bu Guru : "anak - anak, kali ini ibu akan membacakan siapa yang mendapat nilai jelek. hanya ada satu siswa, yaitu...."

Murid : (bertanya - tanya, ada yang berbisik2 dan ada yang berpandang - pandatngan)

Bu Guru : "Sardi, kenapa nilai kamu bisa jelek. kenapa kamu tidak mendengarkan bu guru, kemarin kan sudah ibu beri tahu tentang macam soal, kenapa soal yang menjodohkan tidak kamu kerjakan?"

Sardi : "Loh bu, harusnya ibu itu lebih tahu, soal rejeki, jodoh dan kematian itu ditangan Allah. jadi saya tidak mau menjodoh - jodohkan tapi biarlah Allah yang mengatur semuanya."

Bu Guru: " -_- dasar sableng.. (lari muter2 lapangan)
Umm.. mata kamu bagus, sempurna, tatapan yang tajam dan bulu mata yang lentik.
mukamu halus, sepertinya kamu rajin merawatnya. baguslah!
semua yang ada diwajahmu bagus. alismu yang tebal sehingga kamu nampak tegas. ya, nyaris tak ada cacat.

tapi, aku lihat lihat, matamu memancarkan rona kesombongan. emang apa yang kamu punya? fisik yang bagus? akhlak yang mulia? atau karena ibadahmu yang sempurna (menurutmu)?
lalu bibirmu, kenapa ia agak tebal ya? atau karena kebiasaanmu yang belum hilang? ghibah, riya, mencibir.
dari wajahmu, nampak aura manis tapi sepertinya ada bau busuk yang tersembunyi?

ehh, kenapa wajahmu muram seperti itu?
ga suka dengan perkataanku?
aku bicara berdasarkan apa yang aku lihat saja. dan diwajahmu memang terlihat seperti itu, jadi ga usahlah kamu marah?

eehh, kenapa menangis? menyadari kesalahanmu kah? atau sakit karena perkataanku? baguslah kalau kau merasa sakit, berarti kau masih punya hati.
tapi simpan sajalah air mata palsumu.
sekarang dengarkan baik baik, buat apa sih kamu bangga dengan fisikmu sedang hatimu tak secantik wajahmu? ayolah, berhenti urusi hal seperti itu, perbaiki hatimu.

aku hanya berdoa, semoga matamu dijaga dari pandangan  yang tidak baik. jaga nikmat Allah yang satu ini. masih mending loh kamu punya mata. jaga anggota tubuh lainnya agar selalu melakukan hal yang baik, apa yang dilakukan penuh dengan manfaat. yang terpenting hati dan akhlakmu, hiasai dengan iman, islam dan ihsan. terus berjuang di jalanNya, tak pernah lelah mencari ridhoNya, semoga jalanmu selalu dimudahkan, agar kamu bisa menjalankan apa yang disyariatkan, dijauhkan dari penyakit hati dan menjadi insan yang baik. aamiin
udah, jangan nangis lagi ya.


Bel tanda pulang sekolah sudah berbunyi. Seketika itu pula suara gemuruh siswa yang suntuk sedari tadi mendengar dongeng dari Pak Narno guru sejarah. Langsung tanpa bicara anak – anak kelas VIII C bergegas memasukkan semua peralatan dan buku pelajaran yang mereka gunakan alas tidur kedalam tas mereka masing-masing. Melihat siswanya yang bersemangat pulang Pak Narno hanya mesem. Anak – anak sekarang aneh, diberi pelajaran sejarah malah pada lomba tidur. Ada yang kipas – kipas sambil menguap. Ada yang secara sembunyi – sembunyi ngemil dan mencari kesempatan kala guru lengah demi membunuh rasa kantuk mereka. Ya, inilah resiko guru sejarah dikacangi siswanya. Sang guru menerangkan sampai mulut berbusa tapi anak – anak jiwanya terbang entah kemana walaupun badan tetap ditempat dengan wajah – wajah melongo. Seluruh siswa bebas merdeka akhirnya. Terlihat wajah mereka yang langsung segar saat pulang.
***
Di parkiran sepeda siswa terlihat Kucing dan Pussy berjalan menuju tempat sepeda mereka diparkirkan.
“Woy, Cing..nanti kumpul ditempat biasa ya. Ajak juga tuh si Katy.”
“Oke, Pus.”
Namanya Caty Persi. Geng pecinta kucing Persia yang beranggotakan Aryo Satrio yang menamai dirinya Kucing digeng itu. Lalu Adika Melina dengan namanya Katy dan Dewi Puspa sebagai Pussy. Mereka bisa berkumpul di basecamp mereka di kantin bu Mini belakang sekolah mereka sepulang sekolah. Jadwalnya setiap hari Senin dan Kamis.
“Eh.. bu Mini suka kucing juga ya?” tanya Katy.
“Iya. Tapi kucing ibu ga secantik kucing kalian.” Jawab ibu yang sudah hampir 12 tahun berjualan di kantin SMP 2 Negeri Surabaya ini.
“Kucing kampung ya bu?. Haha” ucap Pussy.
“Pasti ga pernah dirawat atau dibawa ke salon ya bu? Pasti kotor terus mainnya di tempat becek deket rumah rumah gitu. Hiiyy..” tambah Kucing.
“Hush..kalian ga boleh gitu. Kamu juga Cing, cowok kok gitu sih ngomongnya!” nada Katy agak kesal.
“Yee.. emang beneran kok. Lihat tuh kucingnya bu Mini.” Tunjuk Kucing.
“Rese lu!” Katy cemberut.
“Sudah Katy. Memang kucing ibu tidak secantik kucing kalian. Tapi lihat, kucing ibu aktif, tidak manja, badannya sehat dan tetep bersih kok.” Jelas bu Mini.
“Tetep aja kucing kampung, Bu.. ha..ha..ha” ejek Kucing.
“Kucing, bisa lebih sopan ga sih!” Katy mulai marah.
“Apaan sih Ket, lagian Kucing juga becanda doang.” Pussy membela Kucing.
“Becandaan dia kelewatan Pus.”
“Sudah.. sudah.. kok jadi kalian yang berantem. Ibu ga apa-apa kok.” Bu Mini tersenyum.
“Tuh, bu Mini aja ga papa kok.. welk!!” jawab Kucing sedikit mengejek.
“Ya.. oke baiklah. Tapi lihat saja apa yang akan terjadi padamu nanti Cing. Kita ini pecinta kucing. Jadi jenis apapun kucing itu jita tetep harus cintai. Dengan kamu mengejek kucing lain kamu sudah tidak menghargainya. Lihat saja apa yang akan terjadi padamu nanti. Ha..ha..ha..” Katy tertawa sambil mengangat tangan gaya pahlawan bertopengnya Sinchan.
“Kamu ngancem Ket? Haha..”
“Kamu ga percaya? Lihat saja nanti akibatnya.” Muka Katy mendadak serius.
“Ih..apaan sih Katy. Becandanya ga lucu. Aku pulang aja deh.” Kucing berlari.
“ha..ha..ha..”
“Kamu beneran Ket?” muka Pussy penasaran.
“Ya ngga lah.. Kesel aja aku sama Kucing. Kelewatan sih.”
***
“Malam ini kok dingin banget ya? Perasaan bulan ini musim panas. Eh..ada bulan purnama juga. Bagus banget. Tapi kok sepi sih. Katy sama Pussy kemana ya? Brr..kok jadi merinding gini sih.” Kucing terus berjalan menyusuri jalanan.
“Pada kemana sih. Kemarin kan janjian disini.”
“Meong…meong…meong…”
“Eh.. kucing siapa ini. Lucu banget. Sini, ikut aku. Kamu pasti kelaparan ya?” Kucing menggendong kucing yang berwarna hitam itu.
Kucing mengelus-elus hewan itu sembari tengak tengok mencari keberadaan Katy dan Pussy. Tak terasa dia sudah berjalan jauh sekali. Tanpa sadar ternyata Kucing sudah berada di tempat sunyi yang di situ banyak sekali kepala kucing kampung seperti milik bu Mini. Tertata rapi disebuah gapura pintu masuk. Ada juga yang menggantung disebuah pohon mangga yang besar. Bukan mangga yang tergantung tapi kepala kucing. Bunga – bunga disekitar tempat itu juga berbentuk kepala kucing dibagian putiknya. Suasana hening dan sesekali terlihat asap yang mengepul. Tak ada rumah. Sepi sekali. angin pun berhembus halus menyentuh kulit Kucing hingga bulu kuduknya berdiri.
“Haduh.. ngeri banget!! Kok jadi aneh gini tempatnya.” Kucing clingak clinguk.
“Meong…meoooong..meong.” kucing hitam tadi nampak ketakutan.
“Sssttt… jangan takut kucing manis. Masih ada aku disini.” Kata Kucing mencoba menenangkan.
Dia tetap berjalan sambil ketakutan. Kucing yang dia temukan tadi tetap digendongnya.
“Katy…. Pussy… kalian dimana?? Aduh. Mana sepi banget sama dingin lagi. Uh..Kok kamu lama-lama jadi berat ya, cing. Tapi tak apalah. Yuk kita cari jalan keluar.”
Kucing tetap berjalan dan terus mancari ujung jalan. Tapi dia terus merasa berat ketika menggendong kucing itu. Langkahnya semakin pelan dan tergopoh-gopoh. Akhirnya Kucing pun terjatuh karena saking beratnya dan kucing hitam itu terlempar. Kucing mengaduh dan mengelus kepalanya. Dia melihat dari jauh kucing hitam tadi berjalan mendekatinya. Semakin kesini kucing itu semakin membesar. Besar dan terus mendekati Kucing. Dia pun ketakutan. Sambil merangkak dia mencoba berdiri dan…
“Hwaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!......”
Kucingpun lari terbirit-birit. Kucing hitam itu terus mengejarnya. Dia berlari kencang dan tak berani menengok kebelakang. Sambil komat – kamit bibirnya menyebut nama ibunya. Berharap ibunya datang mnyelamatkan dirinya. Saking seriusnya berlari dia tak tahu kalau kucing hitam itu sudah berada di depannya dengan mata tajam sambil tersenyum. Gigi yang tajam itu menyilaukan pandangannya..
“Hwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……..!!!!! Jangan…!! Tolong.. tolong..!!!”
Kucing lalu berbalik arah dan terus berlari sekuat tenaganya. Tak dia hiraukan apapun yang ada didepannya. Batu-batu dia terjangi. Pandangannya terus kedepan tak mau menoleh. Karena terlalu fokus Kucing tak sadar ada batu besar didepannya dan dia pun terjatuh. Badannya semakin menggigil ketakutan.
“Pergilah kucing… pergilah..ku mohon”Kucing mulai sesenggukan.
Sambil mencoba berdiri Kucing melihat ada bayangan besar. Kucing hitam itu terus mendekati Kucing. Semakin mendekat kucing itu lama-lama berubah warnanya menjadi kucing seperti milik bu Mini. Kucing sudah tak kuat lagi berlari. Dia hanya berjalan mundur pelan – pelan menatap kucing bu Mini dan menggeleng – gelengkan kepala.
“Jangan..jangan kucing.. jangan.. ampun.,,ampun..”
Kucing bu Mini hanya tersenyum dengan taring tajamnya. Semakin mendekati Kucing dan siap menerkam.

“HWAAAA!!!!  TIDAAAAKK…!!!! AMPUUUUNN KUCING!!!”

Ijah: (ngomong sendiri) "alamak, genteng bocor pula. tenang, dengan Ijah kan wholecan (whole:serba, can:bisa, maklum ya :D ) semua bisa diselesaikan. Tangga mana tangga? di gudang. okeoke..
(nyanyi) "kamu makannya apa? bangke!!!! aku juru masaknya.. oke!!! na na na na na.. ehhh.. kok bangke sih?

Nyonya: "Jahhh... Ijah.. Ijaaaaaaaaaaaaahhh.. Jaahhh. mana sih itu anak. ehm..ehmm..(ambil suara) Ijaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh!!!!!!!!!!"

Ijah: "eh, nyonya. iya nyaa.. (turun tangga) ehh, ehh kenapa ini. wo..wo woo.. nyaaaaaaaaa.... (gedubraaaaakkkkkkk!!!!!!)

Nyonya: (lari ke sumber suara) kamu disini jah? ngapain kok malah berjemur??

Ijah: (muka datar) "abis latihan salto nyaaaa -_- "

Nyonya: "eh, iya. Jah, tadi aku ketemu Kang Juna (muka sumringah)

Ijah: (kaget) "Kang Juna nya?"

Nyonya: "Iya, yang sering kamu sebut - sebut itu. dia tinggal disebelah rumah kita tuh, blok O no 7. jodoh ga kemana Jah.. Nyonya ikut bahagia."

Ijah: (bengong)

Nyonya: (njitak ijah) "kok bengong sihh.. sana buruan anterin kue."

Ijah": "buat apa nya?"

Nyonya: "ampun deh, Ijah, pinter banget sih. gini loh, kamu anter kue, pura - puranya. trus kan kamu bisa ketemu kang Juna mu ituh.."

Ijah: "Nyonya pintar sekali.. makasih nyaa.. (nyium pipi)"

Nyonya: "wait..wait..wait stop, go away!! uda sana beli kue"

Selang 1 jam 35 menit 2 detik setelah perbincangan tadi......

Ting tong tong tong

Ijah: (sambil menunggu) "deg deg der euy, uda cantik belum ya? kang Juna muah muah"

Tetangga sebelah: "eh, ada tamu."

Ijah: (ganteng banget, ngelap air disekitar bibir) "ngg...ngg..ngg.. ka.. ka.. kang Juna?"

Tetangga sebelah: "ohh, nyari juna. lagi nyuci mobil tuh. sebentar ya? Jun.. Jun.. Junaa.. mana sih tuh anak.. Jun.. Juna.. (ambil suara) Jun.. Junaa.. Juna..eediiiiiiii...."

Ijah: (What?????? Junaedi, shock berat) "ngg..ngg... maaf pak, aduhh.. tiba tiba mules (megangi jidat) ini ada titipan kue dari nyonya buat tuan. saya permisi dulu ya pak terima kasih. (nyelonong)"

Tetangga sebelah: "eh, ga jadi ketemu juna?

Ijah: (dari kejauhan, sedikit berteriak) "engga pak, terima kasih."
(diperjalanan) "arrrrrrggghhhh!!!!!! nyonyaaaa.. kang Juna tuh Arjuna namanya, bukan Junaedi.. ya Allah. mungkin bukan sekarang saatnya.. intinya apa Ijah?
SUABUARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR.........................................."

Akang penat?
ketika masalah yang sama selalu melekat
tentang sepak terjang kian erat
ketika bernafas belum sempat
ia kembali merapat

Apa semua tidak bisa dikata?
kita bicara dengan pikiran terbuka
keluarkan semua apa adanya
mauku dan maumu juga
kita cari jalan diantaranya

sudah tak bisakah?
ataukah, hatimu berkilah
ia berkata, "aku lelah"
begitukah?
kang Juna, bicaralah..



Nyonya : "ehhmm..Ehmm.. siapa kang Juna, Jah?"


Ijah : (kaget) "Ehh, Nyoya, hehe.. itu nyah.. hhee, itu.. anuu.."  (garuk2 kepala, ngelap muka yang keringetan)


Nyonya : "Siapa???? dasar Ijah, disuruh masak ikan malah deklamasi. tuh..tuh. gosong kan?"


Ijah : "kagak nyah.. ga ada yang gosong nyah. ini..ini, ikan gorengnya sempurna nyah, keemasaan, cantik kan nyah?"


Nyonya : "iyaa, ikannya emang ga gosong, tapi mukamu tuh, ngelapnya pake lap wajan sih tadi.. "

Ijah : "ah, masak sih nya (ngaca pake sendok) ah, tapi tetep cantik kan nyah?"

Nyonya : (Lari - lari nyari tembok sambil nangis terbahak-bahak)

Ijah: "Ah, nyonya, berlebihan. ^_^ " (menghela napas, sesaat teringat lagi tentang puisinya.. kang juna.. :( )
ada langit ada bumi
sisi kanan dan sisi kiri
kadang hujan kadang kemarau sepi
satu padu padan mengiringi


adakala suka merasuk
adakala duka menusuk
semua hidup dengan hiruk pikuk
senyum mengembang kemudian takhluk


lalu, salah paham
lambat laun runyam
padahal hanya panas kuku suam suam
tapi parah kapal yang karam
jangan mau tenggelam


terjalin sudah bukan hitungan jari
bukan masalah ego tapi hati
meski sakit tak terperi
masih bisa kita hindari


anggaplah sebuah langkah
sebuah proses yang mungkin kita jengah
namun mana bisa kita kalah
kita kuat tidak lengah


selagi masih bisa ditata ulang
manisnya masih kita dulang
lemahnya hanya buat patah arang
kuatnya bisa setegar karang